Kata overclock mungkin menjadi bahasa asing bagi seorang pemula yang tertarik dibidang hardware. Tetapi bagi mereka yang sudah mahir dibidang hardwawe, kata tersebut merupakan sebuah kata baku dan digunakan dalam kehidupan sehari hari.
Bahasa overclock disusun dari dua kata yaitu over dan clock yang artinya melakukan setup mainboard clock bagi processor maupun sebuah VGA. Kata overclock dikonotasikan dengan membuat computer lebih cepat.
Entah kapan dimulai para hobbiest melakukan overclock. Diperkirakan overclock sudah dimulai pada tahun 1985. Kalau tidak salah, computer pertama yang dijual yaitu jenis PC XT dengan processor tipe Intel (8088) dan dibuat lebih cepat bekerja dengan procesor dari NEC V20. Maklum kecepatan pada computer PC XT dahulu luar biasa lambatnya. Jangankan kata sistem Linux atau Windows. Yang kita kenal saat itu hanyalah PC-DOS IBM sebagai sistem operasi sebuah computer. DOS hanyalah berbentuk disket sudah dapat dijadikan storage pada computer termasuk sistem operasi. Pada tahun itu tidak banyak orang mengenal tentang harddisk ataupun memory seperti jenis. Hardware masih sangat mahal dan sederhana. Bahkan tidak pernah terdengar kata giga seperti sekarang ini. Memory masih dalam hitungan Kilobyte, harddisk pertama berukuran sangat besar dengan beberapa puluh megabyte
Overclock mulai dilakukan ketika processor 486 DX dan Pentium Klasik pertama. Tetapi memacu processor hanya dapat dilakukan dengan jumper pada mainboard. Misalnya Pentium 166Mhz dijumper menjadi kecepatan 200Mhz, sedikit sekali perbedaan antara 166Mhz dan 200Mhz. Tetapi cukup lumayan untuk kecepatan pada tahun ini.
Ramainya overclocker dimulai pada 1997 ketika Intel mengeluarkan processor jenis Celeron berkecepatan 300Mhz dengan jenis slot 1 dan ramai ramai dipacu menjadi 450Mhz. Saat itulah muncul para overclocker yang mulai memacu processor sampai batas terakhir.
Perusahaan Taiwan saat itu sudah menguasai dibidang hardware membuat mainboard dengan option yang dapat disetup oleh pemakai. Munculnya Abit dengan mainboard untuk setup via BIOS dan mainboard jumperless. Abit pertama mengumumkan mainboard dengan jumper minimal dan pemakai dapat melakukan setup pada BIOS untuk kecepatan processor.
Apakah sebenarnnya tujuan overclock
Tujuan utama melakukan overclock adalah memacu sebuah processor VGA dan CPU agar lebih cepat bekerja.
Tetapi saat ini untuk dengan teknologi yang ada, memungkinkan seseorang memiliki kemudahan membuat computer dengan overclock. Misalnya seseorang ingin memacu computer lebih cepat bekerja dengan processor yang lebih murah untuk menyamai computer yang memiliki processor lebih cepat dan mahal. Misalnya mengunakan processor seharga 1 juta tetapi mampu memiliki kecepatan yang hampir atau melebihi computer dengan procesor lebih mahal
Ada juga tujuan khusus yang menjadi trend setelah tahun 2000. Misalnya untuk aplikasi game. Dengan melakukan overclock , sebuah computer akan lebih cepat dan lebih nyaman dinikmati. Dengan overclock semua perangkat akan meningkat. Fungsi yang terakhir inilah tujuan paling umum digunakan. Karena tersedianya perangkat tambahan hampir semuanya tersedia, serta didukung oleh perusahaan mainboard untuk memasukan sistem overclock pada BIOS. Sayangnya, ketika itu belum semua perkembangan telah sempurna. Karena masih terbatasnya perangkat seperti memory, mainboard dan heatsink yang tidak selengkap sekarang ini.
Bagaimana melakukan overclock.
Melakukan overclock sebenarnya melakukan setup kecepatan clock CPU pada BIOS. Bila processor dengan kecepatan 1.6Ghz dengan bus 100Mhz, artinya processor bekerja pada kecepatan 16X100Mhz akan menghasilkan kecepatan processor 1600Mhz atau 1.6GHz. Dengan merubah bus pada option BIOS misalnya dari 100Mhz menjadi 133Mhz maka computer akan bekerja dengan kecepatan 2.1GHZ atau 16X133Mhz dengan hasil 2.1Ghz atau 2.128Mhz. Apakah sedemikian mudah melakukan overclock. Betul, hanya dengan cara inilah computer dapat dipacu dan sedemikian mudahnya seseorang melakukan overclocking.
Berapa mahal dari biaya overclock.
Biaya overclock bisa bervariasi. Bila anda melakukan overclock sebuah computer yang tidak terlalu tinggi, misalnya dengan mempercepat laju processor menjadi 10% atau 20% lebih cepat. Mungkin anda tidak memerlukan biaya tambahan. Perubahan hanya dilakukan pada BIOS saja.
Contoh anda mengunakan procesor 1.6Ghz, lalu memacu menjadi 2.1Ghz. Dengan heatsink standard, pada kecepatan tersebut masih diposisikan aman bagi computer dan dapat dilakukan dengan mudah.
Tetapi bila dilakukan overclock cukup tinggi, misalnya diatas 25%, umumnya akan muncul kendala terjadi pada panas processor. Karena disain heatsink standard sebagai pendingin processor dibuat terbatas untuk kecepatan tertentu. Kendala pada panas processor dapat diperbaiki dengan menganti heatsink non standard. Dengan heatsink non standard maka processor terhindar dari hang atau malfunction karena terlalu panas bekerja. Atau dibantu pada sirkulasi udara didalam untuk memperbaiki sistem pendingin computer.
Kenapa panas menjadi momok dari kegiatan overclock. Dengan peningkatan kecepatan, dampak akan membuat processor menjadi panas.
Lalu dimana tingkat kemahalan dari kegiatan overclock. Bila anda melakukan overclock pada processor saja, tanpa memperbaiki perangkat lainnya. Hal ini dapat dikatakan murah. Tetapi bila anda berkeinginan mengoptimalkan seluruh perangkat yang ada, termasuk memory, mainboard premium, VGA top-end, power supply, pendingin bahkan case yang khusus di disain untuk overclocking. Disitulah nilai mahal yang harus disediakan. Karena perangkat khusus yang disediakan memang memiliki kelebihan tersendiri.
Memiliki sebuah computer dengan tingkat hardware paling optimal hampir sama seperti membeli sebuah PC dengan harga 2 buah PC. Contoh saja, dahulu ada seorang pemula menginginkan pendingin yang baik bagi computer karena telah dioverclock. Untuk menghemat dia membeli fan berkecepatan 7.200RPM 80mm akan lebih murah dibandingkan membeli heatsink bagus tetapi lebih mahal. Beberapa hari kemudian, dia kembali menganti heatsink 7.200RPM dengan heatsink baru. Dikatakan , ketika fan dipasangkan didalam case ternyata malah membuat seluruh meja kerjanya ikut bergetar.
Apa yang perlu diperlukan untuk melakukan overclock.
Mudah untuk membuat processor agar dapat dioverclock, tetapi dampaknya cukup luas bagi hardware lain. Bila berbicara pada computer yang ada saat ini, melakukan overclock akan berdampak bagi hardware seperti sistem I/O, VGA dan lainnya.
Mengoverclock sebuah processor beberapa MHz juga akan memacu kinerja bagian lain seperti memory, PCIe, PCI dan AGP clock. Artinya bila procesor dengan kecepatan bus 100MHz dipacu menjadi 120MHz (20%), maka kecepatan clock hardware lain juga meningkat. Demikian juga kecepatan memory akan dipacu mengikuti kecepatan processor yaitu sekitar 20%.
Banyak kesalahan terjadi bagi pemula karena tidak terlalu mengenal perhitungan, kemampuan serta batasan dari hardware. Untuk itu kita bagi dari masing masing hardware yang terkait satu sama lain karena secara langsung akan terkena dampak ketika processor dipacu diatas standard.
Dengan memacu overclock pada processor terdapat 3 hal penting
1. Processor memiliki batas kecepatan tertentu, semakin tinggi maka semakin panas dan tidak stabil. Menghadapi panas hanya dapat dihadapi dengan sistem pendingin yang baik. Menganti pendingin jenis tertentu akan menjaga keberhasilan ketika melakukan overclock.
2. Semakin tinggi multiplier sebuah processor akan semakin tidak stabil. Umumnya mereka yang ingin melakukan overclock mengambil inisiatif dengan jalan membeli processor bermultiplier rendah. Dengan multiplier rendah, maka kecepatan processor memiliki persentas lebih tinggi plus lebih murah. Misalnya anda mengunakan processor 2.4Ghz dengan multiplier 12 X 200Mhz akan mudah dipacu menjadi 3Gz dengan bus 250Mhz dann terjadi peningkatan 25%. Dibandingkan anda mengunakan processor 3GHz dengan bus 200Mhz dan multiplier 15 X 200Mhz yang mengharuskan bekerja pada 3.75Ghz dengan bus 250Mhz akan sulit untuk stabil bekerja
3. Daya power untuk processor. Kita mengenal dengan overvoltage. Dengan menambahkan voltage bagi processor akan menjaga kestabilan computer. Bila overclock dilakukan pada batas wajar, overvoltage jarang dilakukan. Tetapi pada overclock yang cukup extreme, overvoltage umumnya menjadi pilihan terakhir yang diambil. Dampaknya kembali kepada point pertama yaitu semakin panasnya processor. Mengapa overvoltage dilakukan. Semakin cepat processor bekerja, semakin besar daya atau power yang dibutuhkan. Dengan menambah supply power bagi processor dengan peningkatan voltage atau overvoltage akan memberikan power yang cukup ketika processor bekerja diatas kecepatan standard. Untuk meningkatkan daya bagi procesor, pada BIOS setup terdapat option Vcore. Angka Vcore inilah yang dimainkan agar processor menjadi lebih stabil
Dampak pada chip-set dan kestabilan hardware lain.
Setelah membahas kendala overclock processor, kita kembali melihat dasar dari bus clock pada sistem computer. Melihat dari bagian mainboard, terdapat pembagian kecepatan yang sama agar sinkron bekerja dari tiap tiap hardware.
Melihat pembagian bus tersebut anda dapat menganalisa. Bila sebuah computer dengan kecepatan processor 100Mhz pada bus external, lalu dipacu menjadi 120Mhz. Dampaknya perhitungan clock pada device PCIe, AGP dan ISA bus juga meningkat 20% lebih cepat. Contoh saja bila sebuah VGA AGP dengan bus 66Mhz, dengan kecepatan chip-set yang dipacu 20% saja akan memaksa VGA bekerja pada kecepatan 80Mhz. Artinya akan sulit membuat VGA tetap stabil ketika memainkan game. Atau anda mengunakan harddisk jenis SATA yang sensitif terhadap perubahan, ketika melakukan overclock bisa saja menyebabkan kegagalan harddisk bekerja.
Sebelum perusahaan mainboard membuat option pengunci PCIe/AGP dan PCI, cara paling mudah adalah mencari titik aman pada clock internal. Ketika seseorang melakukan overclock, 20% mungkin malah membuat hardware tidak stabil. Tetapi meningkatkan kecepatan pada overclock 30% malah hardware berjalan normal. Titik 30% adalah titik aman yang diambil para overclock. Perhitungan titik aman tersebut berbeda beda baik pada jenis procesor yang ada.
Kendala pada peningkatan kecepatan bagi chip-set dengan overclock, saat ini bukanlah sebuah masalah. Beberapa perusahaan mainboard telah mendisain agar computer bekerja lebih stabil dengan penambahan option baru untuk pengunci dari clock hardware. Option ini berfungsi sebagai pengunci agar clock dari hardware lain tidak ikut naik mengikuti kecepatan clock processor. Ketika processor bekerja pada kecepatan non standard, maka ketiga bagian tersebut akan tetap sama bekerja seperti kecepatan standard.
Persiapan dan tahapan overclock
Karena overclock adalah kegiatan trial and error atau coba coba. Tahap paling awal adalah anda harus mengetahui dimana tempat untuk melakukan reset BIOS bila computer terkunci ketika dilakukan overcloking. Bila BIOS tidak dapat melakukan boot secara normal, maka pengembalin agar mainboard dapat berkerja kembali dengan melakukan reset BIOS pada untuk mengembalikan BIOS diposisi default.
Hal lain adalah kesabaran. Coba melakukan peningkatan kecepatan processor secara tahap demi tahap. Melakukan peningkatan secara berlebihan hanya akan mengacaukan analisa anda. Melakukan overclock dengan perlahan akan lebih mudah berhasil, dan menganalisa sesaat apakah computer sudah dapat bekerja dengan baik. Dan coba nikmati beberapa aplikasi apakah semua sudah berjalan normal sebelum meningkatkan kecepatan processor lebih tinggi lagi.
Bila terjadi kegagalan misalkan computer mengalami hang, blue screen atau gagal menjalankan aplikasi tertentu. Kembalilah menganalisa pada bagian hardware. Dan mencari dibagian manakah yang membuat computer gagal dilakukan overclock.
Beberapa bagian yang sering menyebabkan kegagalan karena overclock :
1. Memory umumnya paling dominan. Ketika overclock terjadi, bagian memory harus mengimbangi kecepatan processor.
2. Panas yang berlebihan terjadi pada processor bila mengunakan heatsink standard
3. Kekurangan daya pada processor karena mainboard atau power supply yang tidak memadai
4. Kemampuan mainboard yang tidak menunjang, atau tidak di disain untuk overclocking
5. Kemampuan perangkat hardware lain tidak mampu bekerja pada kecepatan overclock
Bagian yang paling penting pada overclock adalah memory dan power supply
Beberapa tahun lalu anda pasti pernah mengenal memory jenis SDRAM dengan kecepatan PC100, PC133 dan PC150. Saat ini perkembangan kecepatan memory DDR dibagi dengan PC2100, PC2600 dan PC3200. Dan jenis DDR2 juga dibagi lagi menjadi PC4300, PC5400 dan selanjutnya. Dan terakhir teknologi dual channel agar memory memberikan bandwidth lebih besar dengan 2 buah modul memory yang harus dipasang bersama sama.
Kita ambil contoh Pentium III dengan kecepatan 500Mhz bus 100Mhz. Untuk mengoverclock menjadi 667Mhz maka computer harus dilakukan setup dengan bus 133Mhz. Dan memory dari standard PC66/PC100 harus diganti dengan PC133 dan PC150
Bila anda mengunakan jenis Pentium 4 1.6Ghz dengan memory DDR dan bus 100Mhz maka computer cukup mengunakan PC2100. Tetapi dengan kecepatan overclock dari 100Mhz menjadi 133Mhz maka computer idealnya mengunakan memory berkecepatan PC2700/DDR333.
Pilihan dari kecepatan memory sebenarnya bukan masalah ketika mengoverclock processor. Hanya untuk mengoptimalkan kinerja computer, diperlukan sebuah kemampuan memory juga. Bila tujuan overclock untuk memaksimalkan seluruh kinerja sebuah computer maka kecepatan memory menjadi adalah hal yang mutlak .
Sebagai contoh, mengunakan processor berkecepatan 200Mhz dengan dual channel memory untuk optimalnya memiliki kinerja pada memory dengan DDR memory berkecepatan DDR PC3200. Apakah memory berkecepatan PC2700 atau PC2100 tidak dapat digunakan. Jawabannya : tetap dapat digunakan. Beberapa mainboard saat ini sudah memasukan option multiplier atau pembagian bagi kecepatan memory dengan processor. Dengan menurunkan kecepatan multiplier memory maka computer dapat mengunakan kecepatan memory lebih rendah
Dampak menurunkan multiplier memory tentu bertentangan dengan tujuan overclock. Disatu sisi kecepatan processor meningkat, disisi lain yaitu kecepatan memory menjadi menurun. Apakah yang terjadi jika kecepatan memory diturunkan. Tentu bagian memory hanya menghasilkan bandwidth lebih rendah atau memiliki kecepatan tranfer lebih rendah karena rendahnya clock yang dikurangi. Pada sisi processor atau CPU sedang bekerja cepat, disisi memory malahan terjadi kelambatan pada tranfer data antara processor ke memory. Hasilnya tentu menjadikan performa computer sedikit lebih rendah
Pemakaian multiplier memory hanya berguna bila memory tidak sanggup bekerja terlalu tinggi ketika processor dilakukan overclock. Sebagai contoh anda mengunakan jenis DDR PC3200 jenis standard yang ada dipasaran. Dengan peningkatan kinerja processor dengan overclock, umumnya terjadi kegagalan pada memory. Karena memory tidak mampu bekerja diluar batas kecepatan standard. Pilihannya adalah menurunkan kecepatan multiplier 1 step dari kecepatan yang ada.
Sebagai contoh pada gambar dibawah ini. Dengan kecepatan processor berFSB 200Mhz maka kecepatan memory standard akan dipacu pada 200Mhz X 2 = DDR400 atau sama dengan kecepatan PC3200. Melakukan overclock processor 10% saja dari kecepatan standard processor maka dibutuhkan kecepatan memory pada kecepatan DDR440. Bila memory tidak mampu bekerja pada kecepatan DDR440, pilihannya dengan menurunkan kecepatan multiplier 1 step dibawahnya. Sehingga memory akan bekerja pada kecepatan 365Mhz atau hampir sama seperti kecepatan PC2700. Karena memory memiliki kecepatan DDR400, dengan kecepatan 365Mhz masih dapat diterima atau dibawah kecepatan standard memory.
Keinginan yang umumnya hendak dicapai oleh para gamer
Keinginan seseorang memiliki computer lebih cepat tidak lepas dari hardware pendukung yang ada. Saat ini sudah banyak memory jenis premium dipasarkan. Pilihan mengunakan memory jenis Premium memang tidak mudah. Selain lebih mahal, memory dengan performa lebih tinggi dibandingkan memory standard memiliki keistimewaan tersendir.
Kami sempat menanyakan pada sebuah produsen memory terbesar saat ini. Mengapa dibuat memory jenis premium (untuk overclock) dan standard. Jawaban dari mereka sederhana.
Chip memory dibuat dengan beberapa model :
Pertama adalah memory standard yang banyak dijual dipasaran. Memory standard ditujukan pada end user. Umumnya chip memory standard dijual lebih murah dan dirakit kembali menjadi memory module. Atau sudah dirakit menjadi memory module dan dijual ke perusahan computer untuk digunakan pada computer branded. Jenis memory standard diproduksi masal dalam jumlah banyak sehingga biaya produksi lebih murah.
Jenis kedua adalah memory yang dijual khusus. Biasanya memory yang dijual khusus diperuntukan bagi perusahaan memory ternama. Perusahaan dengan merek memory tertentu memproduksi module memory dan diberikan label merek dari perusahaan pembuat module memory. Umumnya memory dengan merek tertentu sudah memiliki jaminan terhadap kompatibel diberbagai hardware. Jadi yang ditekankan adalah kompatible pada hardware yang ada dipasaran
Ketiga adalah memory berdasarkan pesanan untuk jenis Premium. Perusahaan pembuat memory hanya membuat memory jenis Premium yang dipesanan dari perusahaan OEM/merek perusahaan memory tertentu dalam jumlah besar. Karena dibuat berdasarkan pesanan, walaupun memilik jumlah besar tetapi tetap mahal karena memiliki kualitas. Memory Premium memang dibuat dengan biaya ebih mahal. Selain memiliki daya tahan lebih tinggi, kemampuan memory Premium tidak akan pernah didapat pada memory standard dan hampir tidak pernah dijual langsung oleh pembuat memory itu sendiri. Kriteria dari memory Premium memang lepas dari kebutuhan memory standard. Biasanya dipasarkan dengan tingkat latency rendah, atau memiliki kemampuan bekerja pada clock tinggi. Khusus bagi para gamer, lebih memilih memory jenis premium. Jenis memory premium umumnya memiliki ketahanan lebih tinggi.
Manfaat ganda juga didapat dengan memory premium. Saat ini ada 2 pilihan antara memory premium ber-latency rendah dengan ketahanan clock standard dan memory premium yang mampu bertahan pada kecepatan clock tinggi tetapi berlatency tinggi.
Untuk mengunakan memory dengan kemampuan clock tinggi, lebih ideal digunakan pada overclock. Tetapi memiliki kelemahan dengan latency tinggi misalnya dinamai dengan PC4400 berlatency 2.5-3-3-6, sehingga computer terlihat kurang responsif. Tetapi pada memory yang memang lebih mampu bertahan pada clock tinggi dan mampu menerima voltage diatas standard (kami sebut VDIMM). Pilihan ini memang harus diambil, karena hanya jenis memory khusus inilah yang mampu mengimbangi kebutuhan tranfer data antara memory dengan processor.
Kebalikannya adalah memory premium ber-latency rendah. Memory jenis ini memiliki fungsi ganda. Bila menginginkan sebuah computer dengan overclok tidak terlalu tinggi disarankan tetap mengunakan memory ber-latency rendah misalnya 2-2-2-6. Computer terlihat lebih responsif, karena memory begitu cepat bekerja dibandingkan memory dengan clock tinggi dan memiliki latency tinggi. Disamping efek respon yang baik pada memory ber-latency rendah, pemakaian overclock masih dimungkinkan asalkan tidak melebihi batas dari kemampuan maksimum memory. Dengan memainkan latency lebih tinggi pada memory ber-latency rendah, masih memungkinkan memory bekerja pada clock yang lebih besar. Misalnya PC3200 dengan latency 2-2-2-5 pada kecepatan 200Mhz, masih mampu bekerja pada 250Mhz dengan latency 3-3-3-6. Pilihannya terletak pada sipemakai, apakah membutuhkan ketahanan memory pada tingkat clock tinggi atau ingin mempertahankan kemampuan memory agar lebih responsif bekerja.
Kenyamanan overclock dengan power supply bermutu (kelas premium)
Terakhir adalah kemampuan dari power supply. Power supply premium memiliki tingkat efisiensi tinggi serta proteksi baik sebagai fungsinya sebagai power supply maupun keamanan bagi perangkat computer.
Power supply premium memiliki beberapa fitur seperti overvoltage, overload, short protection dan sebagainya. Sistem proteksi pada output voltage sangat penting. Ketika power supply mengalami kelebihan beban, umumnya voltage output akan meningkat. Pada posisi membahayakan, maka power supply akan mematikan dirinya agar menjaga perangkat yang ada tidak mengalami overvoltage.
Sistem proteksi ini dibutuhkan bagi para overclock agar harta didalam computer aman. Bila anda pernah menemukan sebuah mainboard dan procesor terbakar karena power supply terus saja memberikan supply daya ke computer. Itu adalah salah satu dampak dari kelemahan sistem power yang digunakan.
Hal tersebut mungkin jarang terjadi pada pemakaian power supply kelas premium. Tentunya akan konyol bila seseorang mengunakan power supply standard seharga 300 ribu, tetapi dipasangkan pada seperangkat hardware yang harganya diatas 10 juta rupiah.
Tetapi bagian terpenting adalah tingkat power efisiensi. Pada power supply dikenal dengan power efficiency / efisiensi power (power factor) sebagai perbandingan input dan output. Input adalah daya yang dibutuhkan oleh power supply dari sumber listrik, sedangkan output adalah daya DC yang dikeluarkan oleh power supply dari beban sebuah computer.
Apakah arti dari power effisien itu. power effisien adalah perbandingan antara pemakaian input dengan hasil output yang dihasilkan. Bila sebuah power supply memiliki power ratio 50%, artinya 50% power output dihasilkan dari 100% input. Sebagai contoh, sebuah power supply dengan daya 300W dengan ratio 50% maka maksimum output yang dihasilkan adalah 150W.
Saat ini sudah banyak produsen power supply jenis premium. Power supply jenis premium umumnya memiliki tingkat power effisien sampai 65-85%. Artinya daya yang dikeluarkan lebih efisien dibandingkan sebuah power supply standard. Dengan label 400W dan power efisien 75%, artinya output power yang dapat diberikan ke perangkat hardware mencapai tingkat maksimal 300W DC dengan kebutuhan daya listrik 400W AC. Dengan melakukan overcloking baik VGA maupun Processor, kebutuhan daya akan meningkat. Ada baiknya anda melihat kembali berapa kemampuan power supply terhadap beban hardware. Menyediakan power supply standard dan tingkat power effisien rendah hanya akan memboroskan daya listrik dan mengacaukan analisa anda ketika melakukan overclock
Dengan artikel diatas, diharapkan pembaca sudah mengenal lebih jauh tentang hardware khususnya untuk pemakaian overclocking. Diharapkan juga anda tidak menganggap bahwa overclock adalah sebuah kegiatan gila yang beresiko. Siapapun dapat membuat sebuah computer lebih cepat dari standard. Overclock bukanlah kegiatan untuk merusak hardware, tetapi hanya meningkatkan performa computer agar bekerja lebih baik.
Overclock tidak hanya bertujuan untuk membeli processor murah untuk menghasilkan kecepatan yang sama dengan processor yang lebih cepat dan mahal. Tetapi memaksimalkan perangkat seluruh harware yang ada, untuk bekerja semaksimal mungkin. Dampaknya, sebuah computer impian anda yang lebih nyaman, lebih cepat, dan lebih responsif agar dapat dinikmati.
sumber: obengware
Tuesday, May 1, 2007
Persingkat waktu Booting
Booting adalah psoses yang cukup banyak memakan waktu. Apalagi ketika kita sedang buru-buru menggunakan PC. Hal ini menjadi sangat menyebalkan. Berikut langkah-langkah yang dapat mempersingkat waktu booting Windows.
1. Lokasi Booting
Pencarian lokasi booting oleh komputer juga dapat memakan waktu. Secara default, biasanya komputer akan memeriksa floopy terlebih dahulu. Anda dapat mengubah hal ini dengan masuk ke dalam BIOS. Caranya tekan Del setelah perhitungan memory dilakukan. Lalu pada opsi FirtsBoot Device pilihlah harddisk di mana Anda meletakkan operating system. Misalnya ‘hard disk 0.’ Dengan cara ini, komputer tidak akan memakan waktu lagi mencari lokasi booting, tapi langsung ke harddisk tempat operating system disimpan.
2. Kurangi Proses Deteksi HDD
Mengurangi proses deteksi terhadap drive yang ada dalam komputer Anda juga dapat mempercepat proses booting. Untuk beberapa motherboard, memungkinkan Anda untuk mendeteksi secara manual. Artinya tidak lagi komputer yang melakukan, tetapi user sudah menentukan terlebih dahulu. Semua hal ini dapat dilakukan dalam BIOS setup. Cara masuknya sama seperti langkah pertama, yaitu tekan Del setelah perhitungan memory dilakukan.
3. Disable-kan Komponen Tak Terpakai
Semua perangkat yang terpasang pada komputer akan memakan waktu booting. Oleh sebab itu, ada baiknya bila Anda mengurangi komponen-komponen yang tidak terpakai ini. Caranya, yaitu dengan membuka Device Manager pilih komponen yang tidak lagi terpakai, namun masih terpasang dalam komputer Anda (misalnya Floopy drive). Klik dua kali, lalu pililih disable pada drop down box Device Usage. Device Manager sendiri dapat diakses dengan cara, klik kanan pada My Computer, pilih properties, lalu buka halaman Hardware.
4. Kurangi Font
Jumlah font yang terlalu banyak dapat membuat proses booting melambat. Oleh sebab itu, salah satu cara yang juga dianggap efektif adalah dengan mengurangi jumlah font yang diinstal. Caranya buatlah sebuah folder khusus, kemudian pindahkan semua font dalam folder font di control panel ke dalamnya. Kemudian barulah pilih kembali mana saja font yang Anda butuhkan saja. Jangan khawatir terhadap hilangnya font yang sementara waktu, karena Windows secara otomatis akan menginstal kembali font-font dasar.
5. Hilangkan Layar Loading
Dengan menghilangkan layar loading, Anda juga dapat menghemat waktu booting. Caranya pilih menu Run pada Start menu, lalu ketikkan msconfig, lalu tekan Ok. Setelah itu pada opsi /NOGUIBOOT berikan tanda centang. Hal ini akan membuat pada proses booting komputer tidak akan menampilkan logo Windows dan animasinya, melainkan hanya layar hitam yang kosong. Anda tidak perlu khawatir, sebab dengan tidak adanya logo dan animasi ini, proses booting dapat dihemat beberapa detik.
6. Kurangi Waktu Setelah Booting
Selesai booting, komputer akan terasa sangat lambat untuk digunakan. Hal ini disebabkan adanya proses pengenalan jaringan yang dilakukan oleh komputer. Bila Anda ingin segera menggunakan komputer dan komputer tidak terhubung dengan jaringan, makan cara yang sangat efektif adalah mematikan fitur ini. Caranya klik kanan pada My Computer, pilih manage. Lalu pilih Service and Application. Pada daftar service, klik dua kali Workstation. Kemudian pada dropdown box Star Up type pilih Disable.
7. Nonaktifkan Service yang Tidak Perlu
Ada beberapa service yang jalan secara otomatis ada juga beberapa service yang jalan pada saat start up dan sebagian besar ada juga yang tidak diperlukan. Sehingga hanya akan memakan waktu dan resource saja. Sebaiknya service-service tersebut dimatikan. Caranya seperti pada langkah nomor 6. Hanya saja, Anda sendiri yang menentukan service mana saja yang Anda kenal dan dirasa tidak dibutuhkan. Lakukan penonaktifan seperti halnya langkah sebelumnya.
Anda juga dapat mencoba cara ini :
1. Buka aplikasi Notepad (C:\WINDOWS\NOTEPAD.exe).
2. Ketik: "del c:\windows\prefetch\ntosboot-*.* /q" (tanpa tanda kutip) lalu save as dengan nama file "ntosboot.bat" ke dalam C:\.
3. Dari START menu, jalankan "Run..." dan ketik "gpedit.msc".
4. Setelah muncul kotak Group Policy, di kotak sebelah kiri bagian Computer Configuration klik dua kali Windows Settings lalu klik lagi pilihan Scripts (Startup/Shutdown). Lalu, di kotak sebelah kanan klik dua kali "Shutdown".
5. Pada kotak Shutdown Properties, klik "Add...", "Browse..." pada kotak "Script Name:". Cari lokasi file yang tadi di save di "C:\ntosboot.bat", klik Open -> OK -> Apply -> OK lagi dan keluar.
6. Dari START menu, jalankan "Run..." dan ketik "devmgmt.msc".
7. Klik dua kali "IDE ATA/ATAPI controllers".
8. Klik kanan "Primary IDE Channel" dan pilih "Properties".
9. Setelah muncul kotak "Primary IDE Channel Properties"pindah ke tab "Advanced Settings". Pada "Device Type" di bagian "Device 1" ganti pilihan "Auto Detection" menjadi "None", klik OK.
10. Klik kanan pada "Secondary IDE Channel", pilih "Properties" dan ulangi lagi langkah 9.
11. Restart komputer Anda.
===================================
Selamat mencoba dan semoga bermanfaat.
oh iya, sebagai bonus, ada tips lain yaitu:
1. Buka run
2. Ketik Regedit
3. My komputer/HKEY_CURRENT_USER
4. Control panel/Desktop
5. Masuk ke menu show delay
6. Trs double click dan ganti stringnya dari 400 ke 0
7. Tutup registri
8. Restart PC.
Dan lihat apa pengaruhnya pada windows anda. Selamat mencoba.
1. Lokasi Booting
Pencarian lokasi booting oleh komputer juga dapat memakan waktu. Secara default, biasanya komputer akan memeriksa floopy terlebih dahulu. Anda dapat mengubah hal ini dengan masuk ke dalam BIOS. Caranya tekan Del setelah perhitungan memory dilakukan. Lalu pada opsi FirtsBoot Device pilihlah harddisk di mana Anda meletakkan operating system. Misalnya ‘hard disk 0.’ Dengan cara ini, komputer tidak akan memakan waktu lagi mencari lokasi booting, tapi langsung ke harddisk tempat operating system disimpan.
2. Kurangi Proses Deteksi HDD
Mengurangi proses deteksi terhadap drive yang ada dalam komputer Anda juga dapat mempercepat proses booting. Untuk beberapa motherboard, memungkinkan Anda untuk mendeteksi secara manual. Artinya tidak lagi komputer yang melakukan, tetapi user sudah menentukan terlebih dahulu. Semua hal ini dapat dilakukan dalam BIOS setup. Cara masuknya sama seperti langkah pertama, yaitu tekan Del setelah perhitungan memory dilakukan.
3. Disable-kan Komponen Tak Terpakai
Semua perangkat yang terpasang pada komputer akan memakan waktu booting. Oleh sebab itu, ada baiknya bila Anda mengurangi komponen-komponen yang tidak terpakai ini. Caranya, yaitu dengan membuka Device Manager pilih komponen yang tidak lagi terpakai, namun masih terpasang dalam komputer Anda (misalnya Floopy drive). Klik dua kali, lalu pililih disable pada drop down box Device Usage. Device Manager sendiri dapat diakses dengan cara, klik kanan pada My Computer, pilih properties, lalu buka halaman Hardware.
4. Kurangi Font
Jumlah font yang terlalu banyak dapat membuat proses booting melambat. Oleh sebab itu, salah satu cara yang juga dianggap efektif adalah dengan mengurangi jumlah font yang diinstal. Caranya buatlah sebuah folder khusus, kemudian pindahkan semua font dalam folder font di control panel ke dalamnya. Kemudian barulah pilih kembali mana saja font yang Anda butuhkan saja. Jangan khawatir terhadap hilangnya font yang sementara waktu, karena Windows secara otomatis akan menginstal kembali font-font dasar.
5. Hilangkan Layar Loading
Dengan menghilangkan layar loading, Anda juga dapat menghemat waktu booting. Caranya pilih menu Run pada Start menu, lalu ketikkan msconfig, lalu tekan Ok. Setelah itu pada opsi /NOGUIBOOT berikan tanda centang. Hal ini akan membuat pada proses booting komputer tidak akan menampilkan logo Windows dan animasinya, melainkan hanya layar hitam yang kosong. Anda tidak perlu khawatir, sebab dengan tidak adanya logo dan animasi ini, proses booting dapat dihemat beberapa detik.
6. Kurangi Waktu Setelah Booting
Selesai booting, komputer akan terasa sangat lambat untuk digunakan. Hal ini disebabkan adanya proses pengenalan jaringan yang dilakukan oleh komputer. Bila Anda ingin segera menggunakan komputer dan komputer tidak terhubung dengan jaringan, makan cara yang sangat efektif adalah mematikan fitur ini. Caranya klik kanan pada My Computer, pilih manage. Lalu pilih Service and Application. Pada daftar service, klik dua kali Workstation. Kemudian pada dropdown box Star Up type pilih Disable.
7. Nonaktifkan Service yang Tidak Perlu
Ada beberapa service yang jalan secara otomatis ada juga beberapa service yang jalan pada saat start up dan sebagian besar ada juga yang tidak diperlukan. Sehingga hanya akan memakan waktu dan resource saja. Sebaiknya service-service tersebut dimatikan. Caranya seperti pada langkah nomor 6. Hanya saja, Anda sendiri yang menentukan service mana saja yang Anda kenal dan dirasa tidak dibutuhkan. Lakukan penonaktifan seperti halnya langkah sebelumnya.
Anda juga dapat mencoba cara ini :
1. Buka aplikasi Notepad (C:\WINDOWS\NOTEPAD.exe).
2. Ketik: "del c:\windows\prefetch\ntosboot-*.* /q" (tanpa tanda kutip) lalu save as dengan nama file "ntosboot.bat" ke dalam C:\.
3. Dari START menu, jalankan "Run..." dan ketik "gpedit.msc".
4. Setelah muncul kotak Group Policy, di kotak sebelah kiri bagian Computer Configuration klik dua kali Windows Settings lalu klik lagi pilihan Scripts (Startup/Shutdown). Lalu, di kotak sebelah kanan klik dua kali "Shutdown".
5. Pada kotak Shutdown Properties, klik "Add...", "Browse..." pada kotak "Script Name:". Cari lokasi file yang tadi di save di "C:\ntosboot.bat", klik Open -> OK -> Apply -> OK lagi dan keluar.
6. Dari START menu, jalankan "Run..." dan ketik "devmgmt.msc".
7. Klik dua kali "IDE ATA/ATAPI controllers".
8. Klik kanan "Primary IDE Channel" dan pilih "Properties".
9. Setelah muncul kotak "Primary IDE Channel Properties"pindah ke tab "Advanced Settings". Pada "Device Type" di bagian "Device 1" ganti pilihan "Auto Detection" menjadi "None", klik OK.
10. Klik kanan pada "Secondary IDE Channel", pilih "Properties" dan ulangi lagi langkah 9.
11. Restart komputer Anda.
===================================
Selamat mencoba dan semoga bermanfaat.
oh iya, sebagai bonus, ada tips lain yaitu:
1. Buka run
2. Ketik Regedit
3. My komputer/HKEY_CURRENT_USER
4. Control panel/Desktop
5. Masuk ke menu show delay
6. Trs double click dan ganti stringnya dari 400 ke 0
7. Tutup registri
8. Restart PC.
Dan lihat apa pengaruhnya pada windows anda. Selamat mencoba.
Tune up Windows
Kadang dengan keterbatasan Hardware yang kita miliki, kita menginginkan performance yang lebih dari PC kita. Berikut beberapa tips buat pengguna windows.
====================================
1.Untuk Windows XP, mulai dengan membuka System Configuration Utility. Pada tab BOOT.INI, beri tanda (P) pada “/NOGUIBOOT”. Ini akan mempersingkat waktu boot dengan menghilangkan Windows startup screen. Pada tab Startup, seleksi ulang seminimal mungkin item yang sangat dibutuhkan. Hal yang sama juga dilakukan pada service yang dijalankan. Usahakan jumlah service yang ter-load tidak lebih dari 25.
2.Windows XP memang tampak begitu memukau pada tampilannya. Jika kebutuhan utama Anda adalah kecepatan dan bukan keindahan, setting ulang interface ini dapat menambah kecepatan. Masuk ke System Properties, pilih tab Advanced. Setting ulang pada pilihan Performance. Kemudian pilih “Adjust for Best Performance” pada tab Visual Effects.
3.Menghilangkan wallpaper dan minimalisasi jumlah desktop icon juga dapat mempercepat PC Anda. Kurangi jumlah desktop icon sampai maksimal lima buah.
4.Menghilangkan bunyi pada event Start Windows juga akan mempercepat proses boot. Mau lebih cepat lagi? Pilih “No Sounds” pada sound scheme.
5.Berapa jumlah font yang terinstal pada Windows Anda? Makin banyak jumlah font yang terinstal akan menambah berat beban kerja PC Anda. Windows secara default menyertakan sejumlah kurang dari 100 font. Usahakan jumlah font yang terinstal pada kisaran 150 font.
6.Anda rajin meng-update driver? Bagus. Namun tahukah Anda, file-file yang digunakan driver lama Anda dapat memperlambat PC. Cara paling mudah menggunakan utility tambahan seperti Driver Cleaner. Utility ini membersihkan driver nVidia dan ATI terdahulu. Driver Cleaner 3.0, juga dapat membersihkan driver lama beberapa chipset motherboard, sound card, dan lain-lain.
====================================
Saya sudah mencoba dan hasilnya lumayan. Sesuaikan dengan kebutuhan anda, misal pekerjaan anda membutuhkan banyak font, maka jangan kurangi jumlah font anda. dan lain-lain.
Di olah dari berbagi sumber semoga bermanfaat. ;)
====================================
1.Untuk Windows XP, mulai dengan membuka System Configuration Utility. Pada tab BOOT.INI, beri tanda (P) pada “/NOGUIBOOT”. Ini akan mempersingkat waktu boot dengan menghilangkan Windows startup screen. Pada tab Startup, seleksi ulang seminimal mungkin item yang sangat dibutuhkan. Hal yang sama juga dilakukan pada service yang dijalankan. Usahakan jumlah service yang ter-load tidak lebih dari 25.
2.Windows XP memang tampak begitu memukau pada tampilannya. Jika kebutuhan utama Anda adalah kecepatan dan bukan keindahan, setting ulang interface ini dapat menambah kecepatan. Masuk ke System Properties, pilih tab Advanced. Setting ulang pada pilihan Performance. Kemudian pilih “Adjust for Best Performance” pada tab Visual Effects.
3.Menghilangkan wallpaper dan minimalisasi jumlah desktop icon juga dapat mempercepat PC Anda. Kurangi jumlah desktop icon sampai maksimal lima buah.
4.Menghilangkan bunyi pada event Start Windows juga akan mempercepat proses boot. Mau lebih cepat lagi? Pilih “No Sounds” pada sound scheme.
5.Berapa jumlah font yang terinstal pada Windows Anda? Makin banyak jumlah font yang terinstal akan menambah berat beban kerja PC Anda. Windows secara default menyertakan sejumlah kurang dari 100 font. Usahakan jumlah font yang terinstal pada kisaran 150 font.
6.Anda rajin meng-update driver? Bagus. Namun tahukah Anda, file-file yang digunakan driver lama Anda dapat memperlambat PC. Cara paling mudah menggunakan utility tambahan seperti Driver Cleaner. Utility ini membersihkan driver nVidia dan ATI terdahulu. Driver Cleaner 3.0, juga dapat membersihkan driver lama beberapa chipset motherboard, sound card, dan lain-lain.
====================================
Saya sudah mencoba dan hasilnya lumayan. Sesuaikan dengan kebutuhan anda, misal pekerjaan anda membutuhkan banyak font, maka jangan kurangi jumlah font anda. dan lain-lain.
Di olah dari berbagi sumber semoga bermanfaat. ;)
Important Overclocking Concepts
The following terms will be used throughout this guide, so it's important to get a good grasp on them now.
FSB (FrontSide Bus): The data bus that carries information from the processor to the main memory and the rest of the system. A processor's internal multiplier multiplied the FSB speed of the system = that processor's speed in MHz or GHz.
Increasing the clock speed of the FSB (and thus the speed of the memory and the processor as well) is the most common and effective way of overclocking a modern computer.
AMD Athlon 64-based systems do not use a conventional FSB since the memory controller is built right onto the processor's core instead of being located in the motherboard's core logic chipset. Instead, a value called motherboard clock speed is used to determine the speed of data transfer between the processor and the memory. For the purposes of this article, FSB and motherboard clock speed are interchangeable terms.
Internal Multiplier: The ratio of a given processor's speed (in MHz or GHz) as compared to the FSB (Frontside Bus) speed of the computer system it is installed in. A processor with an internal multiplier of 16x installed in a system with a FSB of 200MHz would run at 3.2GHz internally, since 16 x 200MHz = 3.2GHz. Most modern processors are 'multiplier locked' to some degree, meaning that their internal multiplier cannot be changed (or at least increased). This in turn means that increasing the FSB speed of a system is the only way to overclock the processor.
Memory Divider: Most modern Intel Pentium 4 and AMD Athlon motherboards allow a memory divider to be set. This divider allows the system memory to run slower than the actual FSB speed. By default, FSB speed and memory are usually set to a 1:1 ratio, meaning that increasing FSB speed (by overclocking) increases memory speed by the same amount. Most 'generic' system memory is not built for overclocking and thus may not be able to take the level of overclocking that the processor or motherboard can achieve.
The memory divider allows users to mitigate this problem by reducing the speed increase of the memory relative to that of the FSB and the processor. Setting a 5:4 memory divider would mean that memory speed increases at 4/5th the rate of the FSB, for example.
Reducing the relative speed of the memory does result in a slight decrease in performance as compared to the default 1:1 ratio between FSB and memory speed, but it may help users with generic memory achieve a higher overclock.
Stock Speed: The default or factory speed settings of computer hardware like the processor, memory and motherboard. With the processor, stock speed refers to the clock speed in MHz or GHz of the processor. With the memory, stock speed refers to the highest standard memory speed that the memory module is rated for (PC3200 DDR memory has a stock speed of 200MHz, for example). In the case of the motherboard, stock speed refers to the default speed at which the processor and memory work together, the FSB speed.
To tie this all together, say a motherboard has an Athlon XP 3000+ processor installed (stock speed 2.1GHz) which uses a FSB speed of 166MHz. A PC3200 DDR memory module (stock speed 200MHz) is installed. Since the processor requires a 166MHz FSB, the motherboard will set the memory speed to 166MHz which becomes its stock speed with the current configuration.
Core/Memory/Chipset Voltage: These three voltage values represent the amount of electrical power being fed to the respective components. When a processor, memory or motherboard is made to run faster due to overclocking, more voltage may be required in order for that component to run stably. With this in mind, voltage adjustment is one of the most important principles of overclocking.
If an overclocked computer becomes unstable, increasing one or more of these voltage settings by a very small amount (0.05V to 0.1V) can often mean the difference between an unbootable system and a stable overclocked one. That being said, it is important to make some distinctions with respect to voltage adjustments; more voltage does not necessarily mean faster speeds, rather minor increases can help improve stability. Computer circuits are designed to operate within very specific electrical ranges, and drastically increasing the electricity being supplied to a chipset will raise temperatures, and potentially damage it.
FSB (FrontSide Bus): The data bus that carries information from the processor to the main memory and the rest of the system. A processor's internal multiplier multiplied the FSB speed of the system = that processor's speed in MHz or GHz.
Increasing the clock speed of the FSB (and thus the speed of the memory and the processor as well) is the most common and effective way of overclocking a modern computer.
AMD Athlon 64-based systems do not use a conventional FSB since the memory controller is built right onto the processor's core instead of being located in the motherboard's core logic chipset. Instead, a value called motherboard clock speed is used to determine the speed of data transfer between the processor and the memory. For the purposes of this article, FSB and motherboard clock speed are interchangeable terms.
Internal Multiplier: The ratio of a given processor's speed (in MHz or GHz) as compared to the FSB (Frontside Bus) speed of the computer system it is installed in. A processor with an internal multiplier of 16x installed in a system with a FSB of 200MHz would run at 3.2GHz internally, since 16 x 200MHz = 3.2GHz. Most modern processors are 'multiplier locked' to some degree, meaning that their internal multiplier cannot be changed (or at least increased). This in turn means that increasing the FSB speed of a system is the only way to overclock the processor.
Memory Divider: Most modern Intel Pentium 4 and AMD Athlon motherboards allow a memory divider to be set. This divider allows the system memory to run slower than the actual FSB speed. By default, FSB speed and memory are usually set to a 1:1 ratio, meaning that increasing FSB speed (by overclocking) increases memory speed by the same amount. Most 'generic' system memory is not built for overclocking and thus may not be able to take the level of overclocking that the processor or motherboard can achieve.
The memory divider allows users to mitigate this problem by reducing the speed increase of the memory relative to that of the FSB and the processor. Setting a 5:4 memory divider would mean that memory speed increases at 4/5th the rate of the FSB, for example.
Reducing the relative speed of the memory does result in a slight decrease in performance as compared to the default 1:1 ratio between FSB and memory speed, but it may help users with generic memory achieve a higher overclock.
Stock Speed: The default or factory speed settings of computer hardware like the processor, memory and motherboard. With the processor, stock speed refers to the clock speed in MHz or GHz of the processor. With the memory, stock speed refers to the highest standard memory speed that the memory module is rated for (PC3200 DDR memory has a stock speed of 200MHz, for example). In the case of the motherboard, stock speed refers to the default speed at which the processor and memory work together, the FSB speed.
To tie this all together, say a motherboard has an Athlon XP 3000+ processor installed (stock speed 2.1GHz) which uses a FSB speed of 166MHz. A PC3200 DDR memory module (stock speed 200MHz) is installed. Since the processor requires a 166MHz FSB, the motherboard will set the memory speed to 166MHz which becomes its stock speed with the current configuration.
Core/Memory/Chipset Voltage: These three voltage values represent the amount of electrical power being fed to the respective components. When a processor, memory or motherboard is made to run faster due to overclocking, more voltage may be required in order for that component to run stably. With this in mind, voltage adjustment is one of the most important principles of overclocking.
If an overclocked computer becomes unstable, increasing one or more of these voltage settings by a very small amount (0.05V to 0.1V) can often mean the difference between an unbootable system and a stable overclocked one. That being said, it is important to make some distinctions with respect to voltage adjustments; more voltage does not necessarily mean faster speeds, rather minor increases can help improve stability. Computer circuits are designed to operate within very specific electrical ranges, and drastically increasing the electricity being supplied to a chipset will raise temperatures, and potentially damage it.
Subscribe to:
Posts (Atom)